Cahaya, Pesan Rendy Saputra tentang Antisipasi Pandemi Virus Corona, untuk Keselamatan Jiwa Anak Bangsa - Jalan Sehat

Cahaya, Pesan Rendy Saputra tentang Antisipasi Pandemi Virus Corona, untuk Keselamatan Jiwa Anak Bangsa

Jalan Sehat, COVID-19 – Seorang tokoh muda menulis tentang cahaya, pesan Rendy Saputra tentang antisipasi pandemi virus corona, untuk keselamatan jiwa anak bangsa. Simak tulisannya yang dikutip lengkap dari laman FB Rendy Saputra.

Cahaya, Pesan Rendy Saputra tentang Antisipasi Pandemi Virus Corona, untuk Keselamatan Jiwa Anak Bangsa


CAHAYA

Part 1

Sudah lama saya gak nulis panjang. Sudah lama juga saya gak bahas tentang opit naintin. Mungkin sepekan lebih. Walau isi kepala rasanya sudah sesak. Mau diungkap. Cuma ketahan.

Iya. Saya tahan.

Sejak saya mulai banyak diam tentang opit, sejak itulah saya diinvite ke grup WA khushs oleh Gus Ainun, pemimpin gerakan sosial kawal opit naintin.

Sekitar 100 lebih sedikit membernya. Para expert di bidang kesehatan, virolog, ahli wabah, dokter, analis, fisikawan, asisten professor. Ngumpul semua. Macem-macem. Sampai media pun ada.

Alhamdulillah ada staff khusus millenial Presiden. 3 orang. Satu yang aktif menjawab dan merespon kami. Alhamdulillah. Salute. Yang dua mungkin udah nyerah. Mute grup. Hehehehe.

Ada juga beberapa staff kepala daerah. Yang juga ada disana. Memfeeding info valid tentang perkembangan positif.

Maka sejak diam di linimasa FB, saya ribut di grup WA. Ha ha ha...

Karena merasa sudah ada saluran yang lebih clear ke pemerintah. Lewat gerakan kawal opit ini. Saya merasa terwakili.

Harusnya aspirasi dan keterwakilan lebih tersistem lewat parpol atau fraksi. Tapi entah mengapa ekstra parlementer ini lebih asik dan dinamis. Wallahualam. Mungkin saya gak punya saluran kali ya. He he he...

itulah masa diam beberapa waktu ini. Mencoba menelaah pembahasan di grup. Saya meyakini Allah azza wa jalla kasih karunia bisa belajar cepat. Jadi saya coba fahami dialog para ahli di grup WA. Saya baca berulang.

Beberapa paper yang di send format PDF juga saya coba baca cepat. Mencoba memahami intinya. Karena faham bahwa jangan sampai salah kasih saran kalo gak ngerti apa yang dihadapi.

Alhamdulillah, beberapa saran dan desakan dari gerakan kawal opit naintin didengar. Bahkan jika hari ini kami bawa isu A, besok sudah ada di media, atau jadi bahasan antar kepala daerah. Nampak banget grup WA ini strategis. Itulah mengapa saya pusatkan energi ke grup WA itu. Grup WA yang menurut saya jadi rujukan pemerintah bahkan media.

Salut juga. Staffsus Millenial Istana fast respond. Saya gak mau sebut siapa. Humble orangnya. Di postingan ini saya mau say thanks atas berbagai saran yang diteruskan ke Presiden. Langsung.

cahaya-pesan-rendy-saputra-tentang-antisipasi-pandemi-virus-corona-untuk-keselamatan-jiwa-anak-bangsa
Cahaya, Pesan Rendy Saputra tentang Antisipasi Pandemi Virus Corona, untuk Keselamatan Jiwa Anak Bangsa

*****

Lalu sekarang kira-kira saya mau nulis apa?

Cahaya... Karena bagi sebagian orang... Masa-masa ini gelap banget.

Beberapa pemimpin komunitas bahkan staff kepala daerah pun merujuk ke linimasa ini. Terima kasih kalo masih percaya. Semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Tulisan saya kali ini tentang saran saya ke masyarakat. Saran ke negara dan pemerintah daerah juga akan saya sampaikan ulang disini, walau di grup WA sudah saya sampaikan.

Di tulisan part 1 ini saya fokus ke keselamatan jiwa anak bangsa. Berikut menyusul tentang ekonomi, strategi sosial atas wabah yang menyerang banyak sendi.

Maaf jika saya nulis ini alami aja. Gak pake kerangka-kerangka. Saya akan stop nulis jika dirasa cukup. Jadi kalo kepanjangan ya saya gak bisa pendek-pendekin.

Natural aja. Bagj yang membutuhkan silakan baca sampe beres. Yang merasa gak butuh, bisa skip. Saya nulis ini sebagai ikhtiar saja. Semoga Allah menyayangi kita semua.

*****

Sebelum saya masuk pada poin-poin saran dan rekomendasi. Saya ingin kita memahami hal fundamental terlebih dahulu. Ini tentang skenario negeri kita perang melawan opit.

Skenario ideal menghadapi opit ini memang dengan memutus rantai penularannya. Lalu membiarkannya tersirkulasi di tubuh manusia. Hingga habis sendiri.

Karena opit ini selalu butuh inang. Butuh tempat hidup. reservoir. Yaitu manusia.

Maka jika manusia yang dijangkiti memgurung diri, dan antibodi dirinya berhasil melawan opit naintin, si opit mati.

Namun jika sebelum antibodi menyerang, si opit berhasil ngirim saudaranya ke tubuh manusia yang lain, si opit berhasil bertahan hidup di manusia yang lain. Sampai semua manusia terjangkit, 60-70%, barulah si opit bingung, karena gak ada lagi uang bisa dijangkitin.

Wuhan pake cara ini. Mau Anda positif atau negatif pokoknya di rumah. 2 bulan lebih malah. Dan Wuhan bisa menekan kasus sampe 0 infeksi. Walaupun muncul lagi infeksi tanpa gejala di beberapa pekerja. Konon mereka lagi siap-siap untuk second wave. Tapi bisa dikendalikan.

Itu yang ideal. Semua warga kita anggap positif. Karantina wilayah. Lockdown. Gak boleh yang ada keluar rumah. Siapapun. Negara ambil tanggung jawab untuk menghidupi rakyatnya. Sudah banyak postingan yang menjelaskan skenario ini. Lengkap sama undang-undangnya.

Tapi kan ternyata sulit. Saya ngobrol sama temen di POLRI. Jumlah Polisi 487 ribu se Indonesia. Gak kebayang kalo harus dipaksa nahan 271 juta orang gak keluar rumah. Atau untuk jabodetabek saja. Yang populasinya total 25 juta jiwa. Sulit.

Saya sudah pernah bahas panjang. Waktu masih ramai dorongan untuk lockdown. Bahwa kultur negara kita gak siap. Ya jadi pilihan ini gak dipake. Yang dipake adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar. PSBB. Silakan nanti disimak saja implementasinya. Intinya bukan total lockdown.

Nah... Skenario berikutnya yang pertengahan.

Oke gak usah lockdown, tapi dilakukan test massive. Sehingga yang positif bisa segera "terciduk", lalu "dikurung" di rumah. Di isolasi. Supaya gak nularin ke yang lain.

Korsel pake cara ini. Massive test. Dan masyarakatnya disiplin. Sebelum menyerang, warga korsel udah pada pake masker. Hehehehe.

Dan korsel berhasil melandaikan kurva infeksi. dan tenaga kerja kesehatan yang wafat cuma 1. Jangan tanya di negeri ini ya. Wallahualam.

Nampaknya negeri kita akan pake cara ini. Ini yang harus saya sampaikan ke teman-teman.

Laporan dari Jubir kemenkes, data angka positif opit memang landai. Masih sekitar 100an infeksi per hari.

Itu kecil karena Lab-lab daerah belum maksimal. Karena kapasitas Lab PCR juga terbatas.

InsyaAllah, data valid ya, semoga kejadian.

DKI dan Jabar akan bangun banyak Lab BSL 2 dan 3. Bio safety level. Kapasitas yang mau dikejar 5000 sd 10.000 test per hari. Makanya kalo dilihat skrg Jabar agresif swab test. DKI sebentar lagi juga nampaknya. Lakukan hal yang sama.

Lab-lab daerah sekarang kejar-kejaran untuk siapkan fasilitas PCR test. dan hasil swab test PCR di masing-masing Lab Kesehatan Daerah ini akan di feed ke pusat. Ini strateginya.

Swab test yang akurasinya hampir 100% akan mendetect ribuan positif opit yang belum terdeteksi. Setelah ketahuan positif ya harus isolasi. Kalo gak parah, isolasi di rumah. Temen-temen lagi siapin apps nya untuk kontrol yang positif pake GPS. Supaya gak nularin kemana-mana. Semoga implementasinhe bener.

Jangan kaget kalo beberapa hari kedepan angka infeksi per hari ribuan kasus. Ini karena Lab-lab daerah sudah bekerja.

Begitu kira-kira. Yang masih harus kerja keluar rumah, akan terus keluar rumah. Yang ketahuan positif ketahan isolasi.

Event kumpul-kumpul sudah dilarang. Ditekan. Social distancing dari arus bawah juga relatif cukup berhasil.

Namun dengan pola ini, berarti kita hanya memperlambat penularan virus.

Sehebat-hebatnya massive swab test, gak akan bisa memastikan yang positif opit terdeteksi. Karena belum tentu di test. Kecuali kalo semua orang dikurung 2 bulan di rumah.

Kita gak mungkin ngetest 25 juta orang. Korsel saja hanya ratusan ribu.

Ini yang harus kita fahami. Ini seknarionya.

*****

Meka berikut beberapa hal yang ingin syaa sampaikan ke publik,

1. Jaga Imunitas bukan candaan.


Bitter truth or false hope? Mau kebenaran yang pahit, atau harapan yang palsu.

Itu status yang ada di linimasa kawan saya hari ini. Banyak benernya.

Secara batin, doa, spritual, kita harus berharap dan menyangka yang baik-baik ke Allah azza wa jalla.

Namun jangan sampai mentalnya jadi gak waspada.

Skenario negeri yang saya paparkan diatas harusnya membuka kesadaran pada diri kita bahwa ....

Bahwa penularan akan terjadi merata dan sifatnya mayoritas akan terpapar.

Ada paper yang nenurut saya masuk akal. Bahwa ketika infeksi opit dosis tinggi, akan sangat mematikan. Ini mengapa resiko nakes sangat tinggi, karena paparan dosis tinggi.

Kita berharap paparannya dosis rendah. Sehingga hasilnya gak bergejala. Amien.

Kita berharap yang memapar merata adalah opit dengan strain yang lebih jinak. Ada S dan L. Virolog yang bisa jelasin. Saya gak mau masuk detailnya. Intinya semoga yang memapar ini adalah opit yang jinak.

Maka dengan demikian, kita perlu ikhtiar.
  • jaga kesehatan. Makan minum bergizi. Berolah raga. Jemuran sinar matahari yang cukup.
  • istirahat yang cukup. Apalagi WFH bikin kita tidur cukup.
  • jaga lapis orang tua kita agar tidak tertular. Prioritaskan untuk karantina mandiri di rumah sampai virus mereda.
  • tetap positif. Dan menyiapkan antibodi terbaik untuk hadapi resiko terburuk
  • banyak amal sholeh, wirid, agar dijauhkan dari opit, atau agar antibodi dicahayai hasil wirid.

Belum ada obat. Andai dirawat pun obat yang diberikan belum ada yang terbukti bisa menekan persebaran virus. Hanya antibodi yang terbukti bisa melawan virus hingga tidak ada lagi didalam tubuh.

Maka saya berdoa banget. Semoga anak bangsa kita kuat-kuat.

2. Ikhtiar pake masker dan tetap physical distancing.


Karena skenarionya gak lockdown. Jadi kita usaha ikhtiar terbaik. Jangan mentang-mentang gak lockdown terus kita jadi pundung dan membebaskan diri sembarangan. Akibat kesel sama negara. Misalnya.

Kaidah usul fiqh. Kalo gak bisa diambil semuanya. Jangan dibuang semuanya.

Masih bisa pake masker. Minimal kalo memang kita positif dan kita gak sadar, kita gak nularin ke orang lain. Droplet kekumpul di masker. Cheko lakukan ini. Wajib pake masker 1 negara.

Singapura bentar lagi. Lihat aja nanti. Negara akan bagi masker ke semua warganya. Ini langkah kecil yang cukup efektif. Walaupun tidak semua masker bisa menahan masuknya virus, minimal ngurangin resiko.

Menghindari keramaian dan meniadakan interaksi masih penting.

Gini, ada yang berpendapat bahwa pada akhirnya toh akan terpapar 60-70% populasi, baru wabah ini berhenti. Ya udah, kerja aja lagi, main aja lagi.

Gini... Cara mikirnya dibalik. Kalo Anda masih bisa kerja dari rumah. Masih punya liquid dana untuk bertahan hidup, maka jadilah 30-40% yang tidak perlu terpapar. Faham gak?

Akhirnya rakyat negeri ini yang masih harus kerja keluar rumah memang berisiko menjadi populasi 60-70% tadi.

Sama para sukarelawan yang bersedia terinfeksi cuma cuma. Siapa itu? Ya itu yang ngotot masih ngumpul-ngumpul, masih gak ngurangin pertemuan. Pada akhirnya merekalah yang mengisi 60-70% paparan. Baik lho mereka sebenernya ini, berkorban agar kekebalan bersama terjadi.

Mengerti ya? Mau jadi yang 60-70% atau mau jadi yang 30-40%. Kalo gam mau terpapar, ya diem dulu, sabar, buying time.

3. Fokus pada Nakes, APD dan alat penunjang.


Skenario yang dipake negeri ini memang akan memposisikan Tenaga Kerja Kesehatan di posisi yang sulit. Asli.

Sudah 1 juta lebih penduduk dunia terinfeksi. Data statistiknya cukup konsisten. 80% akan mengalami gejala ringan atau bahkan tak bergejala. 10-20% butuh perawatan. 5-10% gejala berat.

Dengan pola perang panjang terhadap opit. Kita berharap infeksi nya bisa lebih landai. Sehingga yang terjang bisa terawat dengan baik.

Tapi melihat lama nya perawatan atas opit ini, saya menduga pasti rumah sakit tetap akan kerepotan.

Sistem layanan kesehatan sebuah negara, tidak ada yang siap hadapi wabah. Kecuali Singapura dan Israel setahu saya. Yang lainnya kelimpungan. New York saja rumah sakitnya cukup chaos hari ini. Tidak usah bahas Italy. Lebih lebih.

Maka pengadaan APD, sangat strategis. Semua UMKM harusnya kerja bikin APD, bikin masker.

Gak papa ambil untung. Asal wajar. Bagus juga jadi menggerakkan donasi dari tumpukan uang di orang kaya ke pengadaan APD. Memutar ekonomi. saya tulis dilain waktu.

Nakes akan jadi ujung tombak. Maka sangat perlu diperhatikan makannya, layanan inapnya, perlengkapannya.

Hingga alat ventilator yang di berbagai negara mulai kekurangan. Rekomendasi saya, harus segera berani buat versi murahnya. Denger-denger ITB sudah bikin prototype nya.

Ini yang harusnya dikejar. Karena angka infeksi pasti tinggi, kalo masuk rumah sakit lalu kehabisan ventilator ya percuma. Akhirnya cuma jadi transit saja.

Ini gak main-main. Ventilator perbanyak. Gak usah ribut standard ini itu. Pokoknya bisa bantu napas, bikin paru-paru kepompa, udah bagus. Darurat.

4. Unit layanan kesehatan darurat


Saya pisahkan dari poin 3. Walau masih senafas. Ini tentang jumlah rumah sakit.

Sekarang aja gak cukup. Ini belum puncak opit. Ini belum puncak paparan.

Maka, bener-bener ini ya, bikin aja darili sekarang rumah sakit darurat. Pake container aja. Susun-susun. Di tiap kelurahan dan desa. Disamping puskesmas.

Itu yang kepulauan galangan, bingung juga, kalo puluhan ribu yang harus dirawat, naikin ke pesawatnya, landing, lalu mobilisasi. Waduh. Gak kebayang. Gak ngerti deh. Kepake atau nggak.

Daripada nanti banyak yang gak terselamatkan, warga, atau komunitas yang punya kapasitas, segera bikin rumah sakit darurat. Sekaligus dengan alat standard Intensif Care Unit ICU.

5. Edukasi isolasi mandiri. Rumah isolasi darurat.


Nyambung poin 3 dan 4, maka nanti setelah massive swab test berjalan, dan banyak yang positif, gak semuanya harus masuk rumah sakit.

Ini harus diedukasi. Bener-bener.

Jangan sampe cuma gara-gara beduit lebih, jadi minta dapat bed perawatan padahal tanpa gejala.

Mending amannya di rumah. Kalo gejala ringan dan bahkan gak bergejala. Lebih aman. Malah gak kena paparan virus dosis tinggi. Di rumah sakit, nunggu surat rujukan aja berjam jam. Akhirnya malah tambah penyakit.

Beneran ini. Satu negeri harus kompak edukasi, kasih tahu masyarakat. Kalo semua yang terdetect positif harus masuk rumah sakit, wah... Jebol.

Makadari itu solusi berikutnya adalah rumah isolasi darurat. Kalo rumah pengidap gak layak untuk isolasi mandiri, di masing-maskng RT harusnya dibuat rumah khusus isolasi darurat. makan dan hidup disitu. Sampe sembuh. Kalo gawat baru ke rumah sakit.

6. Satuan Gugus Tugas opit tiap kluster warga.


Maka nyambung dari poin 5, satuan gugus tugas itu jangan cuma skala nasional sampai kota kabupaten. Gak cukup mengcover.

Harus dibuat per cluster wilayah. Setidaknya per kelurahan dan desa. Lebih bagus lagi jika sampai ke tingkat RW.

7. Layanan Kematian.


Data ya. Dari web resmi DKI. Kematian di DKI yang rata-rata hanya 2000an per bulan, untuk maret 2020 ini melonjak 4000 lebih. Ini data.

Entah karena opit. Atau hanya kebetulan saja, data ini harusnya menjadi kesadaran kita bahwa bisa jadi infeksi ini sudah puluhan ribu orang, dan terlihat dari angka kematiannya.

Maka, dengan skenario negeri seperti ini, yang sangat berisiko memapar mayoritas anak negeri, Gus Ainun menitipkan pesan ini ke saya. Agar masyarakat bersiap.

Penolakan jenazah opit sudah merebak. Kita gak bisa edukasi warga yang sudah mentok fikirannya. Mending bangun area khusus.

Kepada pemerintah, entah pusat atau pun daerah,

Jangan sampai... Jangan sampai nih ya...

Udah mah melayani kesehatan rakyat aja amburadul, lalu mengurus kematian yang tinggal menguburkan saja juga gak becus. Ini akan jadi aib sejarah ke anak cucu.

Jadi mohon disiapkan tim fardhu kifayah standard protap opit. Di tiap kluster warga.

Disiapka areanya. Yang layak. Yang manusiawi. Karena strategi pembatasan sosial ini entah berhasil atau tidak.

Jerman memiliki 24.000 fasilitas ICU dengan ventilatornya. Sementara Jabar dengan populasi hampir se Korea Selatan hanya punya 200 hari ini. Ini fakta. InsyaAllah Kang Emil lagi kerja keras membangun kerjasama pengadaan dengan berbagai pihak.

Jadi tolong. Nomor 7 ini diresapi. Para pemerintah daerah lebih baik bikin satuan khusus untuk pemulasaran jenazah. Ini adab kemanusiaan. Sebagai bangsa beradab, harus kita fikirkan.

******

Demikian 7 saran dan rekomendasi saya kepada kawan-kawan sekalian.

Maaf panjang. Semoga manfaat.

Intinya negara sudah pada kemampuan maksimalnya. Anggaran 407 triliun siap jadi stimulus.

Masyarakat arus bawah juga terus bergerak. Doakan kawal opit naintin bisa maksimal membantu masyarakat melawan wabah ini.

Para ahli ilmu yang siap menderma diri sudah banyak. Para aktivis sosial kemanusiaan seperti saya dan kawan-kawan pun siap bergerak.

Semoga ada keajaiban. Opit memilih jinak di negeri ini. Fadhilah atas Ratib dan Wirid para waliyullah yang menjaga negeri.

Jinaklah kau wahai opit...
Negeri kami gak sesiap negeri yang lain..
Tolong pengertian...

URS

***

Kami tidak bertanggung jawab atas tulisan yang diposting ulang di grup-grup WA. Tulisan yang dapat dipertanggung jawabkan adalah yang berada di di akun FB Rendy Saputra.

Tulisan copaste ke grup WA rawaan edit dan manipulasi kesimpulan.

Terima kasih.

Tulisan asli dapat dicek di sini:
https://web.facebook.com/rendykeke/posts/2676114829339418


Cahaya, pesan Rendy Saputra tentang antisipasi pandemi virus corona, untuk keselamatan jiwa anak bangsa.

Solusi COVID-19

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda